Agroteknologi Peluang Usaha Pertanian 

Desa Kalensari Kembangkan Alat Pemusnah Sampah Menjadi Pupuk

Desa Kalensari merupakan salah satu desa di Kecamatan Widasari Kabupaten Indramayu yaitu hasil pemekaran dari Desa Bunder sejak tahun 1984. Menurut sejarah desa bahwa Kalensari asal kata dari dua suku kata yaitu Kalen (red. Kali/Sungai) diambil dari letak geografis pemukiman yang mengikuti alur Kalen dan Sari yaitu diambil dari akhiran kata pada nama Kecamatan Widasari dan nama desa-desa di sekitarnya seperti Malangsari, Rancasari, Wanasari dan lainnya.

Kantor Balai Desa Kalensari (dok. satudata.indramayukab)

 

Sejak dilaksanakannya pemekaran desa pada tahun 1984, Desa Kalensari masih dipimpin oleh PJ ( Penanggung Jawab) sampai berganti 3 (tiga) kali kepemimpinan selang waktu 4 (empat) tahun lamanya setelah itu Desa Kalensari baru melaksanakan Pemilihan Kuwu/Kepala Desa pada tahun 1988.

Kuwu yang pertama dipimpin oleh Bapak Sanurih selama 2 (dua) kali periode (Tahun 1988 – 1998 dan Tahun 1998 – 2008), Kuwu yang kedua yaitu Bapak H. Masroni periode(Tahun 2008 – 2014) dan terpilih kembali pada periode sekarang (Tahun 2015 – 2021).

Gerbang Desa Kalensari (dok. H. Masroni)

Pembangunan Desa Kalensari terus mengalami perubahan baik dari segi kinerja Pemerintah Desa, infrakstuktur, sosial ekonomi masyarakat, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Hal tersebut sesuai dari visi dan misi Desa Kalensari dan implementasi dari pelaksanaan Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014.

Pemerintah Desa Kalensari yang dipimpin oleh Kuwu H. Masroni terus mengupayakan peningkatan program kerja aparatur desa dan pelayanan masyarakat seoptimal mungkin, seperti pada penanganan kebersihan lingkungan dan kesehatan yaitu permasalahan sampah masyarakat serta jamban masyarakat.

Pada tahun 2015 Desa Kalensari mendapatkan Piagam Penghargaan ODP (Open Defecation Free) yaitu desa yang sudah terverifikasi bebas buang air besar sembarangan, disamping penghargaan yang telah diemban Pemerintah Desa Kalensari terus melakukan upaya dalam penanganan sampah rumah tangga yang menjadi permasalahan lingkungan.

Desa Kalensari melalui Pokja Resik Desa melaksanakan penanganan sampah sesuai Peraturan Desa Kalensari Nomor 3 Tahun 2016  tentang Retribusi Pelayanan Pengangkutan Sampah, pada pasal 7 disebutkan bahwa :

  1. Biaya tarif retribusi bulanan yang dikenakan pada wajib retribusi adalah sebagai berikut : a). Wajib retribusi dengan klasifikasi jenis rumah permanen dikenakan biaya Rp. 10.000/bulan; dan b). Wajib retribusi dengan klasifikasi jenis rumah semi permanen dikenakan biaya Rp. 7.000/bulan; dan
  2. Tarif pembayaran biaya pelayanan pengangkutan sampah untuk sampah khusus setiap rit sampai ke TPA sebesar Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah).

Masyarakat membayar retribusi penanganan sampah tersebut sesuai klasifikasi jenis rumah sedangkan tonase sampah masih tergolong tinggi dan sampah hanya dibuang ke TPA maupun sampah dibakar ditempat sampah yang menyebabkan polusi asap.

Rancangan Alat Pirolisis (dok. Google)

Kondisi ini sangat kurang efektif karena belum adanya pemanfaatan sampah sehingga Pemerintah Desa Kalensari membuat suatu trobosan teknologi dalam rangka penanganan dan pengolahan sampah yaitu dengan Alat Pirolisis dari Sampah menjadi Pupuk (Asap Cair).

Alat Pirolisis sampah ini dibuat sepanjang samping jalan Desa Kalensari untuk memudahkan masyarakat membuang sampah pada bak sampah, Alat Pirolisis dibuat menyerupai bak sampah yang didesign dengan cerobong asap dengan memasang pipa besi untuk mengalirkan asap hasil pembakaran sampah yang dihubungkan ke tong penampung asap lalu asap tersebut didestilasi dengan pendingan air supaya asap panas menjadi cairan / asap cair.

Kendaraan Operasional Tim Resik Pengangkut Sampah (dok. H. Masroni)

Pengelolaan Tim Resik Desa beranggotakan 4 (empat) orang, cara kerjanya yaitu warga membuang sampah pada TPS yang telah disediakan lalu Tim Resik Desa mengumpulkan sampah dari TPS untuk diolah menjadi asap cair setiap tiga hari sekali, satu unit pirolisis bisa menampung sampah rumah tangga setiap tiga hari sekali, dalam hitungan satu minggu dapat menghasilkan asap cair 5-12 liter grade 3, untuk saat ini produk asap cair belum dijualbelikan masih untuk kebutuhan warga setempat.

Pembuatan Alat Pirolisis ini membutuhkan biaya sekitar Rp. 5 juta dan setelah diujicoba hasilnya cukup efektif, sampah diubah menjadi asap cair, fungsi Asap Cair dalam dunia pertanian untuk pengendalian hama terutama penggerek batang padi dan wereng, WBC serta Ulat Grayak.

Kuwu dan Aparatur Desa Kalensari (H. Masroni)

Kuwu H. Masroni menyampaikan bahwa “Saat ini masyarakat membuang sampah masih membayar retribusi, kedepan kami (Pemerintah Desa) yang akan membayar masyarakat ketika membuang sampah”. Terobosan ini menjadi pemicu dan motivasi desa lain dan pemerintah daerah khususnya Kabupaten Indramayu dalam rangka penanganan sampah rumah tangga dan diharapkan setiap desa memiliki alat pirolisis sehingga tidak ada lagi sampah yang berserakan dan mengganggu lingkungan.

Facebook Comments

Related posts