Info Kehutanan Perikanan 

ATASI LINGKUNGAN RU VI BALONGAN BANGUN ARBORETUM MANGROVE

Sejak dibuka Ekowisata Hutan Mangrove Karangsong pada 14 Juni 2015 telah membuka masyarakat luas akan arti pentingnya pelestarian alam dan menjaga lingkungan, membangun sebuah konsep besar untuk mengembalikan fungsi tanaman mangrove sebagai penyangga kehidupan ekosistem disepanjang pesisir pantai utara Indramayu.

Agrosilvofishery – Arboretum Mangrove (dok. Supriyatna Cecep)

Melalui jerih payah beberapa pihak masyarakat pesisir yaitu Kelompok Pantai Lestari serta support dari Pertamina RU VI Balongan Hutan Mangrove telah berhasil memberikan pundi-pundi kehidupan flora dan fauna untuk sebuah ekosistem yang ada disepanjang pantai. Tidak sampai disitu Pertamina RU VI Balongan terus memperluas konsep untuk menjaga kelestarian lingkungan yaitu dengan membangun Arboretum Mangrove.

Griya Sinau Agrosilvofishery (dok. Supriyatna Cecep)

Arboretum Mangrove sebuah konsep yang menarik untuk dalam mengkolaborasikan pengembangan Mangrove yang terpadu yaitu tidak hanya melakukan penanaman mangrove saja, namun adanya integrasi dengan pengembangan perikanan dan konsep lingkungan.

Pertamina RU VI Balongan melalui buku Ekowisata menjelaskan bahwa Pembangunan Arboretum Mangrove merupakan gagasan yang dibangun oleh Pertamina RU VI Balongan bersama dengan kelompok masyarakat setempat didorong oleh keprihatinan  atas  kerusakan  ekosistem mangrove  di  pantai  utara  Indramayu  yang terjadi  sejak  tahun 1980an.

Papan Informasi Fauna

Selain itu permasalahan lain yang muncul yaitu deforestasi sebagai akibat dari proses pengalihan lahan yang sebelumnya hutan mangrove menjadi lahan tambak perikanan. Beranjak dari permasalahan tersebut. Pertamina RU VI Balongan bersama-sama dengan Kelompok Pantai Lestari di Desa Karangsong, menginisiasi sebuah konsep konservasi alam yang mengintegrasikan dengan bidang pendidikan yaitu Arboretum Mangrove.

Arboretum Mangrove merupakan pengkayaan jenis-jenis tanaman (Mangrove dan Vegetasi) dalam satu kawasan terpadu. Arboretum Mangrove dirancang untuk multi manfaat, yaitu untuk pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, mengatasi  intrusi air  laut,  habitat  burung,  mengamankan  pantai  dari  abrasi, penyerap  dan penjerap  pencemaran,  penahan  angin,  ameliorasi  iklim,  meningkatkan keindahan dan wahana rekreasi.

Saung Pertemuan

Tujuan besar didirikannya Arboretum mangrove yaitu memberikan pemahaman mengenai persebaran mangrove di Indonesia berikut fungsi dan manfaatnya kepada masyarakat luas khususnya anak usia sekolah dan akademisi dalam penelitian. Sampai saat ini sudah terdapat 11 Sekolah Dasar di 3 Kecamatan yang memanfaatkan Arboretum Mangrove sebagai  sarana pembelajaran keanekaragaman hayati. Hingga saat ini jumlah flora yang terdapat di Arboretum yaitu sebanyak 2428 dari 29 jenis flora (mangrove dan vegetasi ) dan memiliki 33 spesies  burung dari 16 famili yang sudah terindentifikasi.

 Tidak hanya itu, Arboretum Mangrove juga terdapat beberapa fasilitas pendukung lainnya untuk pendidikan yaitu;

  1. Tambak Agrosilvofishery yang diperuntukan untuk pendidikan perikanan dengan konsep mengkolaborasikan antara perikanan, kehutanan, pertanian dan tanaman pangan. Desain unsur utama dalam pembuatan tambak Agrosilvofishery adalah Kolam untuk budidaya ikan dan rumput laut,  Pematang untuk budidaya pertanian dan kehutanan. Pembuatan pematang tidak perlu mendatangkan tanah timbunan, tetapi cukup dari tanah hasil galian kolam,dan jenis ikan yang dibudidayakan adalah jenis ikan kerapu yang memiliki nilai jual yang tinggi dengan menggunakan pakan alami berupa cacahan ikan-ikan  sehingga metode ini sangat ramah lingkungan (tanpa unsur kimia).
  2. Pemanfaatan Energi Matahari menjadi Listrik melalui Solar Cell. Tujuan pemasangan solar cell sebagai upaya memberikan edukasi kepada kalangan pelajar mengenai energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan di kehidupan sehari-hari. Sampai saat ini sudah terpasang sebanyak 5 titik penerangan lampu bertenaga matahari dan 1 gardu sebagai sumber listrik yang terpasang di kawasan Ekowisata dan Arboretum Mangrove. Selain itu, manfaat lain dari pemasangan solar cell sebagai sumber energi listrik untuk aktivitas tambak Agrosilvofishery sehingga cukup menghemat pembelian BBM apabila menggunakan genset, serta tidak menimbulkan polusi sehingga dinilai ramah lingkungan.

Melalui akun media sosial Pak Supriyatna Cecep (Pihak Pertamina RU VI Balongan) menjelaskan bahwa “Yang paling berperan adalah kesadaran semua elemen masyarakat, karena akan menjadi percuma kalau masyarakat tidak mendukung“. Hal tersebut merupakan sebuah ajakan kepada masyarakat bahwa sebuah pembangunan akan lebih bermakna dan bisa maju ketika keterlibatan masyarakat dapat ikut serta berpartisipasi untuk bersama-sama melaksanakan sebuah pembangunan.

Dari gambaran konsep Arboretum Mangrove tersebut diharapkan mampu menjadi sebuah solusi untuk memperbaiki keadaan alam dan lingkungan disepanjang pantai utara, dan masyarakat pesisir bisa menjadikan tempat belajar bersama mengenai mengenai keanekaragaman Mangrove, budidaya ikan, dan kelestarian lingkungan sehingga menjadi nilai produktif.

Lokasi Arboretum Mangrove yaitu bersebelahan dengan lokasi Ekowisata Hutan Mangrove Karangsong, bisa diakses melalui penyebrangan perahu yang menghantarkan ke titik Arboretum Mangrove, atau bisa dengan track jalan kaki setelah berada di Ekowisata Hutan Mangrove.

 

Facebook Comments

Related posts